Interpretasi Ayat Mutasyabihat: Perbandingan pemikiran Hasan Hanafi dan Muhammad Sahrur
DOI:
https://doi.org/10.71242/g07gwf97Keywords:
Hermeneutics, Phenomenology, Mutasyabihat VersesAbstract
This document presents a comparison of the thinking of Hasan Hanafi and Muhammad Shahrur in interpreting ambiguous verses in the Qur'an. Hasan Hanafi is known as a progressive thinker who seeks to connect Islamic texts with contemporary realities through a hermeneutical and phenomenological approach. He believes that ambiguous verses should not be understood solely literally but must be interpreted taking into account the current social, political, and cultural context. His hermeneutical approach enables the Qur'an to be a source of inspiration that is relevant, dynamic, and responsive to modern challenges. Furthermore, Hanafi emphasizes the phenomenological method for a deeper understanding of religious experience, so that interpretation of verses is not merely normative but also transformative for social life. Meanwhile, information regarding Muhammad Shahrur's views on ambiguous verses is not detailed in this document. Shahrur himself is known as a figure who widely used rational and modern linguistic approaches in interpreting the Qur'an, including the concept of al-hudūd (the boundaries of meaning). However, without an in-depth analysis, a comprehensive comparison between Shahrur's and Hanafi's frameworks is limited. Nevertheless, Hanafi's significant contributions to the development of Islamic hermeneutics, particularly through thematic interpretation and phenomenological approaches, have been well documented. To gain a complete picture of the differences and common ground between the two, further research is needed. An in-depth study of Shahrur's methodology and epistemological orientation will open up opportunities for a more comprehensive comparative analysis, thereby enriching contemporary exegetical discourse on mutasyabihat verses in the modern era.
Abstrak
Dokumen ini memaparkan perbandingan pemikiran antara Hasan Hanafi dan Muhammad Shahrur dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat (ambigu) dalam Al-Qur’an. Hasan Hanafi dikenal sebagai pemikir progresif yang berupaya menghubungkan teks-teks Islam dengan realitas kontemporer melalui pendekatan hermeneutika dan fenomenologi. Ia memandang bahwa ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dipahami secara literal semata, melainkan harus diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks sosial, politik, dan budaya zaman sekarang. Pendekatan hermeneutikanya memungkinkan Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi yang relevan, dinamis, dan responsif terhadap tantangan modern. Selain itu, Hanafi menekankan metode fenomenologis untuk memahami pengalaman keagamaan secara mendalam, sehingga penafsiran ayat tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transformatif bagi kehidupan sosial. Sementara itu, informasi mengenai pandangan Muhammad Shahrur terhadap ayat-ayat mutasyabihat tidak dijabarkan secara rinci dalam dokumen ini. Shahrur sendiri dikenal sebagai tokoh yang banyak menggunakan pendekatan rasional dan linguistik modern dalam menafsirkan Al-Qur’an, termasuk konsep al-hudūd (batas-batas makna). Namun, tanpa uraian mendalam, perbandingan komprehensif antara kerangka pikir Shahrur dan Hanafi menjadi terbatas. Meski demikian, kontribusi signifikan Hanafi terhadap pengembangan hermeneutika Islam, khususnya melalui interpretasi tematik dan pendekatan fenomenologis, telah terdokumentasi dengan baik. Untuk memperoleh gambaran utuh mengenai perbedaan maupun titik temu antara keduanya, penelitian lanjutan diperlukan. Kajian mendalam atas metodologi dan orientasi epistemologis Shahrur akan membuka peluang analisis perbandingan yang lebih menyeluruh, sehingga dapat memperkaya wacana tafsir kontemporer terhadap ayat-ayat mutasyabihat di era modern.
Downloads
References
Anieg, Mukhamad. “Kontruksi Pemikiran Hermeneutika Hadis Syeikh Muhammad Al-Ghazali Tentang Kepemimpinan Wanita Dalam Publik.” Didaktika Islamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 15 (2024): 40–55.
Anshory, Ali Ridwan, and Hanna Salsabila. “Epistemologi Dan Pendekatan-Pendekatan Hermeneutika Hasan Hanafi.” Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin 4, no. 1 (2024): 18–32. https://doi.org/10.15575/jpiu.32332.
Arifin, Muhammad Patri. “Hermeneutika Fenomenologis Hasan Hanafi.” Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin Dan Filsafat 13, no. 1 (2018): 1–26. https://doi.org/10.24239/rsy.v13i1.88.
Asdaliah, Nur, and Basri Mahmud. “Huruf Jar Ba Dan Kandungan Maknanya Dalam Q.S. Al-Maidah (The Letter Jar Ba and Its Meaning in Q.S. Al-Maidah).” Loghat Arabi 3, no. 1 (2022): 68–86. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.36915/la.v3i1.45.
dkk, Kurdi. Hemeneutika Al-Quran & Hadis: Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman (Teori Double Movment). Yogyakarta: Elaq Press, 2010.
Efendi, Rahmat. “Muhkam Dan Mutasyabih Dalam Al- Qur‘an: Refleksi Keyakinan Dan Implikasi Terhadap Corak Teologi Islam.” TAJDID : Jurnal Ilmu Keislaman Dan Ushuluddin 20, no. 1 (2021): 1–31.
Garwan, Muhammad Sakti. “Relasi Teori Double Movement Dengan Kaidah Al-Ibrah Bi Umumil-Lafdz La Bi Khusus As-Sabab Dalam Interpretasi QS. Al-Ahzab[33]: 36-38.” Jurnal Ushuluddin 28, no. 1 (2020): 59–70. https://doi.org/10.24014/jush.v28i1.8103.
Gufron, M. “Transformasi Paradigma Teologi Teosentris Menuju Antroposentris (Telaah Atas Pemikiran Hasan Hanafi).” Millatī: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 3, no. 1 (2018): 141–71. https://doi.org/10.18326/millati.v3i1.141-171.
Hadi, Nur Muhammad. “MUHAMMAD SYAHRUR DAN KONSEP MILKUL YAMIN : KRITIK PENAFSIRAN PERSPEKTIF USHUL FIQH Mukhammad Nur Hadi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,” n.d., 5–6.
HAKIM, EMIL LUKMAN. “PEMBACAAN KONTEKSTUAL HADIS-HADIS SHALAT TARAWIH: APLIKASI TEORI DOUBLE MOVEMENT FAZLUR RAHMAN” 14, no. 1 (2018): 57–72.
Halimah, Siti. “Isi Atau Materi Pendidikan: (Iman, Islam, Ihsan, Din, Amal Saleh).” Journal of Islamic Education El Madani 1, no. 1 (2022). https://doi.org/10.55438/jiee.v1i1.12.
Hanafi, Ahmad. “Memaknai Aktifitas Belajar Sebagai Ibadah Dengan Kontekstualisasi Pemahaman Hadist Innamal A’malu Bin Niyat (Studi Elaborasi Melalui Kajian Heurmenetik, Kritik Sanad Dan Semiotik).” Jurnal Pemikiran Dan Studi Islam 5, no. 2 (2020): 54.
Haq, Achmad Faisol. “Pemikiran Teologi Teosentris Menuju Antroposentris Hasan Hanafi.” Spiritualis 6, no. 2 (2020): 159–90.
Juliansyahzen, Muhammad Iqbal. “Rekonstruksi Nalar Hukum Islam Kontemporer Muhammad Shahrur Dan Kontekstualisasinya.” Al-Mawarid Jurnal Syariah Dan Hukum (JSYH) 4, no. 1 (2022): 57–74. https://doi.org/10.20885/mawarid.vol4.iss1.art4.
Juliya, Helga, Intan Anggrini, and Akhmad Dasuki. “Analisis Hermeneutika Ayat-Ayat Mutasyabihat : Pendekatan Kaidah Universitas Islam Negeri Palangka Raya.” Jurnal Ilmiah Nusantara ( JINU) 2, no. 4 (2025): 452–59.
Masyhuda, Ahmad Ali. “Pengaplikasian Teori Double Movement Pada Hukum €˜Iddah Untuk Laki-Laki.” HERMENEUTIKA : Jurnal Ilmu Hukum 4, no. 1 (2020). https://doi.org/10.33603/hermeneutika.v4i1.3272.
Mawaddah, Ummu, and Siti Karomah. “Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Terhadap Pendidikan Modern Di Indonesia.” Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah 3, no. 1 (2018): 15–27. https://doi.org/10.25299/althariqah.2018.vol3(1).1516.
Moh. Hefni, Moh. Hefni. “REKONSTRUKSI MAQÂSHID AL-SYARÎ’AH (Sebuah Gagasan Hasan Hanafi Tentang Revitalisasi Turâts).” AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial 6, no. 2 (2013): 161–83. https://doi.org/10.19105/al-lhkam.v6i2.307.
Muhammad Lutfi. “Analisis Sosial Hassan Hanafi Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam.” IHTIROM : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 2 (2023): 138–51. https://doi.org/10.70412/itr.v2i2.64.
Naja, Sun sina sabila, and Muhammad Nuruddien. “Jurnal Ilmu Al- Qur’an Dan T Afsir (JIQTA).” Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir (JIQTA) 4 (2025): 61–73.
Qamar, Syamsi Wal. “Kritik Makna Islam Perspektif Orientalis Dan Liberal.” Kalimah 13, no. 1 (2015): 171. https://doi.org/10.21111/klm.v13i1.283.
Qudsia, Miatul, and Muhammad Faishal Haq. “Analisis Surat Al-Anfāl Ayat 17: Upaya Mengungkap Sisi Transendental Hermeneutika Double Movement.” Jurnal Al-Fanar 4, no. 1 (2020): 85–107. https://doi.org/10.33511/alfanar.v4n1.17-30.
Rangkuti, Suheri Sahputra. “Dekonstruksi Epistemologi Muhammad Shahrur.” Al-Istinbath : Jurnal Hukum Islam 3, no. 2 (2018): 133. https://doi.org/10.29240/jhi.v3i2.545.
Reflita. “KONTROVERSI HERMENEUTIKA SEBAGAI MANHAJ TAFSIR (Menimbang Penggunaan Hermeneutika Dalam Penafsiran Al-Qur’an).” Ushuluddin, no. 2 (2016): 135–49.
Rosyadi, Imron. “Revitalisasi Khazanah Islam Klasik Menurut Hassan Hanafi.” A-Qalam, 2021.
Sulaeman, M. “Pemikiran Hermeneutika Al-Qur’an Hasan Hanafi Dalam Studi Al-Qur’an Di Indonesia.” SALIMIYA: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam 1 (2020): 1–26.
Yati, Murni, Ali Imran, and Maemonah. “Solusi Problem Pengembangan Potensi Diri Mahasiswa Di Masa Pandemi (Analisis Teori Double Movement Fazlur Rahman).” Jurnal Paris Langkis 2, no. 1 (2021): 47–56. https://doi.org/10.37304/paris.v2i1.3127.
Zahrani, Hani, and Rubini. “Pendekatan Hermeneutika Dalam Pengkajian Islam.” SALIHA: Jurnal Pendidikan & Agama Islam 6, no. 2 (2023): 171–96. https://doi.org/10.54396/saliha.v6i2.662.
Zulhijrah, Sinta Bella, and Mahmud Arif. “Sumbangan Studi Al- Qur ’ an Bagi Pendidikan َّ.” Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam 10, no. 3 (2024): 1316–25.





