Ritual Mandi Suci Petirtaan Jolotundo Perspektif Coordinated Management Of Meaning (Cmm)

Authors

  • Nuraini Universitas Yudharta Pasuruan Author
  • Nurma Yuwita Universitas Yudharta Pasuruan Author

DOI:

https://doi.org/10.71242/dvyteh68

Keywords:

Ritual, Bathing, Holy Bathing Place, Jolotundo

Abstract

Abstract

This study examines the sacred bathing ritual at the Jolotundo Bathing Pool as a symbolic communication practice imbued with spiritual and cultural meaning. The analysis is based on the Coordinated Management of Meaning (CMM) theory, which views communication as a multi-layered meaning-making process across six levels: content, speech acts, episodes, relationships, life scripts, and cultural patterns. Thus, each symbol and action in the ritual is understood not simply as a simple activity but as part of a complex structure of meaning. This study employed a qualitative method with a case study approach. Data were obtained through field observations, in-depth interviews with ritual participants, and documentation in the form of related notes and archives. This approach enabled the researcher to capture the meanings contained within the ritual practice in greater depth and context. The results indicate that the sacred bathing ritual at the Jolotundo Bathing Pool is understood not only as a physical purification process but also as a medium of spiritual communication to convey prayers, hopes, and respect for ancestors. Key symbols such as water, flowers, and incense have meanings that are understood both personally and collectively, thus strengthening the spiritual and cultural dimensions of the ritual. Interestingly, the ritual participants come from diverse religious and cultural backgrounds, reflecting the value of inclusivity and the influence of syncretic beliefs. Furthermore, the meaning of the ritual is influenced by individual life experiences, family traditions, and local cultural values ​​passed down through generations. This makes the Jolotundo Bathing Place a dynamic, ever-evolving spiritual space that remains relevant amidst the changes in modern society.

Abstrak

Penelitian ini membahas ritual mandi suci di Petirtaan Jolotundo sebagai praktik komunikasi simbolik yang sarat makna spiritual dan budaya. Landasan analisis yang digunakan adalah teori Coordinated Management of Meaning (CMM), yang memandang komunikasi sebagai proses penciptaan makna berlapis dalam enam tingkatan, yaitu konten, tindak tutur, episode, hubungan, naskah hidup, dan pola budaya. Dengan demikian, setiap simbol dan tindakan dalam ritual dipahami tidak hanya sebagai aktivitas sederhana, tetapi bagian dari struktur makna yang kompleks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pelaku ritual, serta dokumentasi berupa catatan dan arsip terkait. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap makna yang terkandung dalam praktik ritual secara lebih mendalam dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual mandi suci di Petirtaan Jolotundo tidak hanya dipahami sebagai proses penyucian diri secara fisik, tetapi juga sebagai media komunikasi spiritual untuk menyampaikan doa, harapan, dan penghormatan kepada leluhur. Simbol-simbol utama seperti air, bunga, dan dupa memiliki makna yang dipahami baik secara personal maupun kolektif, sehingga memperkuat dimensi spiritual dan kultural dari ritual tersebut. Menariknya, para pelaku ritual berasal dari latar belakang agama dan budaya yang beragam, mencerminkan nilai inklusivitas dan adanya pengaruh kepercayaan sinkretik. Selain itu, makna ritual dipengaruhi oleh pengalaman hidup individu, tradisi keluarga, serta nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menjadikan Petirtaan Jolotundo sebagai ruang spiritual yang dinamis, terus berkembang, dan tetap relevan di tengah perubahan masyarakat modern.

References

Adityatama, Wira, Hamidah Hamidah, and Silvia Assoburu. “Seni Hadroh Sebagai Komunikasi Budaya Islam (Studi Pada Majelis Assolihin Di Talang Kedondong Palembang).” Indonesian Culture and Religion Issues 1, no. 1 (2024): 9. https://doi.org/https://doi.org/10.47134/diksima.v1i1.2.

Anugerah Zakya Rafsanjani. “Tinjauan Ekoteologi Relasi Manusia Dan Alam Dalam Tradisi Sesuci Diri Di Candi Jolotundo Mojokerto.” Islamika Inside: Jurnal Keislaman Dan Humaniora 4, no. 1 (2018): 96–121.

Arafah, Sitti. “Moderasi Beragama: Pengarusutamaan Kearifan Lokal Dalam Meneguhkan Kepelbagaian (Sebuah Praktik Pada Masyarakat Plural).” Mimikri: Jurnal Agama Dan Kebudayaan 6, no. 1 (2020): 58–73.

Arlianti, Lily. “Bioetanol Sebagai Sumber Green Energy Alternatif Yang Potensial Di Indonesia.” Unistek 5, no. 1 (2018): 16–22. https://doi.org/10.33592/unistek.v5i1.280.

Basalamah, Muhammad Ridwan, and Hariri Hariri. “Jolotundo As an Attraction of Local Wisdom Based Ecotourism.” Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal 12, no. 2 (2020): 88–98. https://doi.org/10.26905/lw.v12i2.4144.

Budianto, Agus, and Nara Setya Wiratama. “Hypnoteaching Dalam Pembelajaran Sejarah.” Jurnal Edutama 4, no. 2 (2019): 1–10.

Efendi, Erwan, Muhammad Raefaldhi, and M. Salman Al Farisi. “Penggunaan Media Sosial Sebagai Sarana Berdakwah.” Da’watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting 4, no. 1 (2023): 12–20. https://doi.org/10.47467/dawatuna.v4i1.3218.

Haris, Aidil, and Asrinda Amalia. “Hambatan Hambatan Lintas Budaya (Sebuah Tinjauan Komunikasi).” Jurnal Dakwah Risalah 29, no. 1 (2018): 16.

Hartono, Rudi. “Pola Komunikasi Di Pesantren : Studi Tentang Model Komunikasi Antara Kiai, Ustadz, Dan Santri Di Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan.” Al-Balagh : Jurnal Dakwah Dan Komunikasi 1, no. 1 (2016): 67–100. https://doi.org/10.22515/balagh.v1i1.60.

Iman, Sunardi Bashri. “Sistem Komunikasi Dakwah Di Era Digital.” Jurnal Kajian Ilmu Dan Budaya Islam 2, no. 02 (2019): 105–16.

Lestari, Alif Putra. “Kajian Nilai Pada Mitos Dan Tradisi Di Kawasan Candi Jolotundo.” SOSEARCH : Social Science Educational Research 1, no. 2 (2021): 85–92. https://doi.org/10.26740/sosearch.v1n2.p85-92.

Mamik Indrawati, and Yuli Ifana Sari. “Jurnal Penelitian Dan Pendidikan IPS.” Jurnal Penelitian Dan Pendidikan Ips 1, no. 18 (2024): 40–48.

Martini, Renanda Yulio Putri, Bambang Kusbandrijo, and Supri Hartono. “Peran Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Dan Parawisata Kabupaten Mojokerto Dalam Pengembangan Petirtaan Jolotundo Di Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.” Sagita Academia Journal 3, no. 1 (2025): 1–3. https://doi.org/10.61579/sagita.v3i1.321.

Maurin, Yosi, Neni Wahyuningtyas, and I Nyoman Ruja. “Makna Tradisi Ruwatan Petirtaan Candi Jolotundo Sebagai Sarana Pelestarian Air.” JPSH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) 5, no. 1 (2020): 24–34.

Ningrum, Ayu Condro, and Izqi Tazqiyah. “Peran Bahasa Dalam Komunikasi Lintas Budaya: Memahami Nilai Dan Tradisi Yang Berbeda.” Selasar KPI : Referensi Media Komunikasi Dan Dakwah 4, no. 2 (2024): 1–14.

Novia, Reni. “Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Masyarakat Perantauan (Studi Deskriptif Penggunaan Whatssapp Grup Pada Suku Guci Dt Marajo Kilangan).” Interpretasi: Communication & Public Relations 3, no. 1 (2023): 30–39. https://doi.org/10.53990/ijpik.v3i1.218.

Nurfadilah, Siti. “Eksplorasi Nilai-Nilai Pendidikan Dan Spiritual Dalam Doa Bele Kampung: Studi Pada Tradisi Masyarakat Melayu Desa Igal, Kecamatan Mandah, Indragiri Hilir.” Jurnal Kependidikan 13, no. 2 (2024): 2637–46.

Pantan, Frans, Priskila Issak Benyamin, Johni Handori, Yuel Sumarno, and Sadrakh Sugiono. “Resiliensi Spiritual Menghadapi Disruption Religious Value Di Masa Pandemi Covid-19 Pada Lembaga Keagamaan.” Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 7, no. 2 (2021): 372–80.

Rahmawati, Agustina, Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, and Lintang Ratri Rahmiaji. “Memahami Pengalaman Komunikasi Remaja Untuk Mengelola Perundungan Fat Shaming Di Di Era Digital , Perudungan Fat Shaming Mulai Langsung , Kini Mulai Merambah Di Media Sosial , Badan Gemuk ( plus Size ) Termasuk Dalam Salah Satu Bentuk Perundungan Body Sha.” JUrnal Ilmu Sosial 1, no. 1 (2006): 10.

Safitri, Baiq Vira, Novita Maulida, and Tenri Waru. “Komunikasi Ritual Pada Tradisi ”Bau Nyale” Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.” SeNSosio Unram 4, no. 2 (2023): 284–98.

Sina, Ainun, Devi Ariani, Khairan Syahputra Tarigan, Nerisa Sertiawan, and MardinalTarigan. “Kedudukan Manusia Di Alam Semesta: Manusia Sebagai ‘Abdullah, Manusia Sebagai Khalifah Fil Ard.” Jurnal Pendidikan Dan Konseling 4, no. 3 (2022): 1349–58.

Studi, Program, S Sosiologi, Fakultas Ilmu, Hukum Universitas, Negeri Surabaya, Program Studi, S Sosiologi, Fakultas Ilmu, and Universitas Negeri Surabaya. “Interaksi Sosial Ibu-Ibu Rumah Tangga Meanings Are Done Based on Common Knowledge of Each Member . Meaning The.” Paradigma UNES 04 (2016): 10.

Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif,Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011.

Sugiono, Shiddiq. “Industri Konten Digital Dalam Perspektif Society 5.0.” Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Komunikasi 22, no. 2 (2020): 175–91.

Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. “Ensiklopedia Islam Nusantara.” Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, no. Edisi Budaya (2018): 378.

Ulinnuha, Roma. “Religious Exclusivity, Harmony and Moderatism amid Populism: A Study of Interreligious Communication in West Sumatra.” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 22, no. 1 (2021): 115–26. https://doi.org/10.14421/esensia.v22i1.2816.

Valentiyo, Aprillian, Ustman Fajri Ramadhan, and Muhammad Fikri Alhanif. “Komunikasi Sebagai Proses Simbol.” Inspirasi Edukatif: Jurnal Pembelajaran Aktif 6, no. 1 (2023): 202.

Yuwita, Nurma, Darsono Wisadirana, and Suryadi Suryadi. “Studi Konstruksi Makna Hubungan Antarumat Beragama Dengan Pendekatan Model (Coordinated Management of Meaning-CMM).” Wacana, Jurnal Sosial Dan Humaniora 18, no. 04 (2015): 267–76. https://doi.org/10.21776/ub.wacana.2015.018.04.7.

Downloads

Published

2025-07-10

How to Cite

Ritual Mandi Suci Petirtaan Jolotundo Perspektif Coordinated Management Of Meaning (Cmm). (2025). Al-Qolamuna: Journal Komunikasi Dan Penyiaran Islam , 2(3), 288-303. https://doi.org/10.71242/dvyteh68